Produktivitas
Kota Batam dihasilkan dari jam kerja karyawan dikali dengan out put karyawan
yang dibandingkan dengan upah yang diberikan. Sebanyak 953.952 jam produktivitas
masyarakat Batam hilang setiap tahunnya atau sekitar Rp 14,5 milyar. Loh kok
bisa.
Produktivitas karyawan/masyarakat jika sehari bekerja selama 8 jam, 5 hari seminggu dan 4 minggu per bulan, setahun 1.920 jam. Jika dikalikan dengan upah yang diterima sebulan menurut UMK Kota Batam saat ini Rp 2.422.092,- jika dikonversikan ke jam maka 1 jam karyawan diupah sebesar Rp 15.138,07.
Produktivitas karyawan/masyarakat jika sehari bekerja selama 8 jam, 5 hari seminggu dan 4 minggu per bulan, setahun 1.920 jam. Jika dikalikan dengan upah yang diterima sebulan menurut UMK Kota Batam saat ini Rp 2.422.092,- jika dikonversikan ke jam maka 1 jam karyawan diupah sebesar Rp 15.138,07.
Berhentinya
aktivitas berarti berhenti pulalah produktivitas, apa saja yang menghentikan
produktivitas tersebut. Saat ini yang menjadi fenomena adalah antrian yang
panjang dalam membeli bahan bakar solar bersubsidi.
Dari
data Batam Dalam Angka tahun 2013 tercatat kendaraan jenis bus dan truk yang
notabene menggunakan bahan bakar solar di Batam totalnya adalah 19.874
kendaraan. Jika setiap kendaraan tersebut ikut antri dalam membeli bahan bakar
2 kali seminggu yang mana setiap kali antri dirata-ratakan ½ jam saja maka Kota
Batam akan kehilangan waktu yang produktif sebanyak 19.874 unit kendaraan x 2
kali seminggu x 4 minggu sebulan x 12 bulan totalnya adalah 953.952 jam. Jika dikonversikan dengan upah
perbulan 2.422.092 / bulan atau sebesar Rp 15.138,07 / jam maka Kota Batam akan
kehilangan Rp 14,5 milyar per tahun. Wow suatu angka yang fantastis.
Ini
baru dari satu sebab yang kelihatannya remeh temeh tapi angkanya luar biasa.
Jika kondisi ini
terbiarkan maka Kota Batam akan kehilangan daya saing karena produktivitas yang hilang setiap tahunnya.Jika Batam kehilangan
daya saing maka akan banyak Investasi yang
akan meninggalkan Kota Batam. Pengangguran akan bertambah banyak masalah social
lainnya akan meningkat tajam dan biaya social untuk ini juga akan lebih besar
dikeluarkan oleh Pemerintah. Jika kondisi ini terjadi maka akan semakin Jauhlah
Kota Batam ini dari kota yang madani seperti yang digadang-gadangkan.
Begitu
pentingnya untuk menjaga produktivitas masyarakat agar daya saing Kota Batam
dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Selain mengurai antrian panjang BBM juga
dengan meningkatkan kesehatan dan ketrampilan warganya dengan pelatihan-pelatihan
agar trampil dalam meklaksanakan
pekerjaannya.
Penulis adalah
: Desman Wardi, SPi, MM
Pemerhati
Masalah ekonomi juga bekerja sebagai Dosen Ekonomi Ibnu Sina dan PNS Dinas
Kelautan Perikanan Kota Batam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar