Jumat, 20 Februari 2015




RUMPUT LAUT DAN PENGENTASAN KEMISKINAN


Banyak program pengentasan kemiskinan yang diprogramkan baik oleh pemerintah maupun stakeholder lainnya hanya berumur seumur jagung dan tidak berkesinambungan. Tidak sedikit program yang gagal atau tidak berhasil mencapai target menurunkan tingkat kemiskinan masyarakat di suatu daerah atau wilayah. Hal ini disebabkan mulai dari kurangnya kajian kelayakan suatu usaha atau program yang diberikan dengan berbagai factor dan indicator yang diabaikan. Salah satu factor yang penulis anggap penting yang akan menentukan keberhasilan program yaitu masalah waktu atau siklus produksi sampai menghasilkan manfaat (uang) yang dapat dirasakan oleh masyarakat.



Cepat atau lambatnya jangka waktu (umur) suatu program dilaksanakan sampai menghasilkan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu program pengentasan kemiskinan. Contoh program pengentasan kemiskinan yang banyak dilaksanakan seperti budidaya ikan, baik ikan air tawar maupun ikan laut. Walaupun keduanya sama-sama budidaya ikan tapi budidaya ikan di darat lebih cepat daripada budidaya ikan laut. Jika panen budidaya ikan darat sekitar 3-4 bulan, ikan laut bisa 8 hingga 1 tahun lebih (tergantung jenis ikannya). Masyarakat yang dibantu (miskin) ingin suatu program yang instan untuk memenuhi kebutuhan hidup dari bulan ke bulannya. Jika hasil dari bantuan usaha budidaya perikanan yang dilaksanakan melebihi dari 2 bulan maka program tersebut tidak akan memberikan dampak kepada masyarakat yang dibantu karena yang mereka butuhkan adalah penghasilan setiap bulannya untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Jika mereka harus menunggu waktu 3 hingga 8 bulan sementara pekerjaan lain yang mereka usahakan tidak ada hal ini akan menjadi beban tersendiri bagi mereka dan konsentrasi dalam melaksanakan budidaya akan terganggu sehingga prosentase kegagalannya besar. Untuk mengatasi hal tersebut harus dicari program-program terobosan baru yang bisa memenuhi target waktu perputaran suatu usaha maksimal sekitar 45 hari.
Kenapa 45 hari, karena walaupun mereka “ngebon” di warung untuk hidup sehari-hari bulan depannya sudah dapat membayar hutangnya. Jenis Usaha dipilih yang dapat dilaksanakan oleh Ibu-ibu sementara para suami mereka tetap beraktivitas seperti biasa sehingga tidak mengganggu cash flow rumah tangga tersebut. Adakah usaha yang bisa panen dalam jangka waktu 45 hari dan pekerjaan tersebut bisa dilaksanakan oleh Ibu-ibu serta usaha tersebut bisa berlanjut dan bisa dikembangkan ketingkat tertentu sehingga menjadi matapencaharian utama dan bisa membawa masyarakat pra sejahtera menjadi sejahtera bahkan kaya raya ?. Jawabannya ada, yaitu program budidaya rumput laut yang bisa dipanen hanya dalam tempo 30 – 45 hari. Budidaya rumput laut ini sangat mudah pekerjaannya (low technology) dan biasa dilakukan oleh Ibu-ibu. Hasil produksi masyarakat dijamin akan dibeli oleh perusahaan berapapun jumlahnya sesuai dengan kualitas pabrik (kandungan air 30% dan bersih dari kotoran) dibeli sesuai dengan harga pasar (jika harga pasar dunia naik maka harga beli naik dan jika harga turun ada harga terendah yang disepakati yang sudah mempertimbangkan keuntungan bagi masyarakat.
Permasalahannya, pemerintah ataupun stake holder (CSR-Perusahaan) terkait masih memandang sebelah mata usaha budidaya rumput laut ini. Dengan simulasi bantuan seperti dibawah ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sebagai berikut : Bantuan Bibit dan sarana lainnya Bantuan bibit rumput laut 1 kk 500 Kg @ Rp 5.000,- jumlah Rp 2.500.000,- Tali Nylon, tali raffia dan kayu pancang Rp 1.000.000,- Total Bibit dan sarana lainnya Rp 3.500.000,- Hasil panen waktu 30 - 45 hari, Penjemuran maksimal 2 hari (dalam 10 Kg basah menjadi 1 Kg kering) Pesimis : Budidaya 1 Kg bibit jadi 3 Kg x 500 Kg jumlah 1.500 Kg basah, disimpan untuk bibit 500 Kg sisa 1.000 Kg dikeringkan jadi 100 Kg Moderat : Budidaya 1 Kg bibit jadi 5 Kg x 500 Kg jumlah 2.500 Kg basah, disimpan untuk bibit 500 Kg sisa 2.000 Kg dikeringkan jadi 200 Kg Optimis : Budidaya 1 Kg bibit jadi 8 Kg x 500 Kg jumlah 4.000 Kg basah, disimpan untuk bibit 500 Kg sisa 3.500 Kg dikeringkan jadi 350 Kg Proyeksi peningkatan pendapatan (dalam waktu 30-45 hari) Pesimis : 100 Kg x Rp 9.000,- Jumlah Rp 900.000,- Moderat : 200 Kg x Rp 9.000,- Jumlah Rp 1.800.000,- Optimis : 350 Kg x Rp 9.000,- Jumlah Rp 3.150.000,- Masalah atau kendala Hama penyakit (ice-ice) mengurangi total produksi hingga 50% kejadiannya 3 bulan dalam 1 tahun (12 bulan) Masyarakat malas membersihkan rumput laut yang sudah ditanam, hasil produksi pada tingkat pesimis. Wow…suatu hasil yang fantastis, hanya dengan Rp3.500.000 bantuan bibit + bantuan sembako untuk 1 bulan Rp 1.500.000,- total bantuan Rp 5.000.000,- / KK sudah dapat meningkatkan pendapatan masyarakat mulai dari Rp 900.000 sd Rp 3.150.000,- per 45 hari. Ayooo… buruan tunggu apalagi. Dengan program budidaya rumput laut dapat menciptakan lapangan kerja baru (pro job), Meningkatkan pendapatan masyarakat miskin (pro poor), Jika dikembangkan terus bibitnya hasil panen bisa berlipat ganda (pro growth) Dan dengan tumbuhkembangnya usaha budidaya rumput laut masyarakat akan lebih menjaga kelestarian perairannya sehingga (pro green). 
Penulis :
-Desman Wardi, SPi, MM 
-Pemerhati masalah Sosial Ekonomi 
-Staff Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Batam 
-Dosen STIE Ibnu Sina Batam  



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar